Relawan

 

 Perjuangan Dokter Lie untuk Kesehatan yang Setara

 

Sosok Dokter Lie (foto:detik health)

Kesehatan adalah kebutuhan mendasar setiap manusia. Ketika berbicara tentang layanan kesehatan, sosok dokter selalu hadir sebagai figur sentral yang tidak terpisahkan. Di antara sekian banyak dokter yang berpraktik di Indonesia, ada satu nama yang menonjol, yakni dr. Lie Augustinus Dharmawan, PhD, Sp.B, Sp.BTKV. Beliau adalah seorang dokter bedah yang kini berpraktik di Rumah Sakit Husada, Jakarta, dan menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Namun, di balik statusnya sebagai dokter bedah terkemuka, ada kisah tentang dedikasi dan kemanusiaan yang luar biasa.

 Dr. Lie tidak hanya dikenal karena keahliannya di bidang medis, tetapi juga karena komitmennya yang kuat untuk melayani masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan. Dokter yang menyelesaikan pendidikan Spesialis Bedah di Arztekammer Nordrhein, Dusseldorf, Jerman ini, merasa terpanggil untuk membantu masyarakat di daerah terpencil dan pesisir di Indonesia Timur. Ia menyadari betul betapa timpangnya distribusi dokter di Indonesia. Sebagai contoh, di Pulau Jawa terdapat 71.286 dokter, atau 57,63% dari total dokter di Indonesia, sementara di Maluku dan Papua hanya ada 2.661 dokter.

Keprihatinan terhadap ketidakmerataan ini mendorong dr. Lie untuk mendirikan Yayasan doctorSHARE, sebuah organisasi yang bertujuan memberikan layanan kesehatan kepada mereka yang kurang beruntung. Melalui yayasan ini, ia menginisiasi sebuah proyek yang kemudian menjadi tonggak sejarah dalam pelayanan kesehatan di Indonesia: Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan, atau yang dikenal dengan RSA Bahenol. Rumah sakit ini adalah kapal kayu berukuran 6,5 x 23,5 meter yang telah dirombak menjadi rumah sakit terapung.

 

Bakti Tanpa Batas

 Sejak beroperasi pertama kali pada 16 Maret 2013, RSA Bahenol telah melayani lebih dari 34.500 pasien rawat jalan, melakukan 1.085 operasi besar, 2.334 operasi kecil, 1.317 pemeriksaan USG, serta memberikan edukasi kesehatan dan pelatihan kepada hampir 6.000 orang. Semua layanan ini diberikan tanpa memungut biaya sedikit pun dari pasien.

 Pelayanan medis yang dilakukan dr. Lie dan timnya tidak terbatas pada satu wilayah saja. Mereka telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Kepulauan Kei di Maluku, Pulau Panggang di Kepulauan Seribu, hingga Papua. Di manapun mereka berada, dr. Lie tidak pernah membeda-bedakan siapa yang harus dibantu. Semua dilayani dengan penuh dedikasi dan pengorbanan.

 “Kita memberi bukan karena kita berkelebihan, tapi karena kita berempati kepada saudara-saudara kita yang berada dalam kesulitan. Itulah mengapa kita bahu membahu, tanpa melihat siapa kita dan apa profesi kita. Indonesia adalah satu dan kita lakukan ini demi Tuhan, demi bangsa, dan negara kita,” ungkap dr. Lie dengan penuh keikhlasan.

 Namun, pada 16 Juni 2021, RSA Bahenol mengalami musibah. Kapal tersebut terbakar dan tenggelam di Selat Sape, Nusa Tenggara Barat, saat dalam perjalanan dari Kupang menuju Torano, Sumbawa Besar. Meskipun demikian, semangat dr. Lie tidak luntur. Sebagai pengganti, RSA dr. Lie Dharmawan II telah mulai beroperasi pada 8 September 2022, dengan misi medis pertamanya di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

 

Menjawab Tantangan Kesehatan di Indonesia

Dr. Lie percaya bahwa masalah kesehatan di Indonesia tidak hanya berkisar pada jumlah dokter yang minim, terutama di daerah pelosok. Tantangan ini jauh lebih kompleks. Ia mencatat bahwa distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, kurangnya sarana medis seperti laboratorium dan rumah sakit, serta infrastruktur yang belum memadai, turut memperparah keadaan.

Pengalaman dr. Lie dalam memberikan pelayanan medis di Desa Gagemba, Kabupaten Intan Jaya, Pegunungan Tengah, Papua, pada Juli 2015 menjadi bukti betapa sulitnya mewujudkan ‘Indonesia Sehat’. Ia bersama tim harus menempuh perjalanan naik-turun gunung tanpa penerangan untuk bisa mencapai masyarakat yang membutuhkan.

Menurutnya, meski Indonesia meluluskan sekitar 6.000 dokter baru setiap tahun, jumlah ini masih belum memadai untuk melayani seluruh penduduk. “Jika semua yang lulus berpraktik sebagai dokter, tak ada yang pensiun dan meninggal, secara matematis kita sangat mungkin mempertahankan status quo 1:1.400. Namun masih jauh panggang dari api untuk mencapai rasio 1:250 seperti negara maju,” ujar dr. Lie.

Meski tantangan masih besar, apa yang dilakukan oleh dr. Lie telah memberikan banyak harapan dan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Baginya, tugas seorang dokter tidak hanya pada pengobatan, tetapi juga pada pengabdian kepada sesama tanpa pamrih. Seperti yang ia sampaikan, “Kita tidak mau saling menyalahkan, tapi coba tanya pada diri sendiri, ‘Apa yang dapat saya partisipasikan dalam pembangunan Indonesia?’” Pertanyaan ini menjadi refleksi bagi kita semua tentang peran yang bisa kita ambil untuk bersama-sama membangun bangsa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemacetan Jatiwaringin

Atma Radio

Orange